Home
/
Lifestyle

Surat untuk Milenial yang Tak Sanggup Membeli Rumah

Surat untuk Milenial yang Tak Sanggup Membeli Rumah
Kolumnis: 19 December 2018
Bagikan :

Kita, generasi milenial, barangkali telanjur menganggap diri payah dan mengamini tuduhan yang bergaung di mana-mana bahwa kita lebih mementingkan kesenangan sesaat dibandingkan keamanan hari depan.

Kita mungkin kelewat sering mendengar orang-orang tua mengatakan “waktu saya seusia kamu...” sebelum memamerkan berbagai pencapaian, dan pelan-pelan percaya bahwa kita tak setangguh mereka.

Kita mungkin sudah lupa bagaimana rasanya punya harapan, setelah bertahun-tahun bekerja siang dan malam dan siang dan malam, dan masih saja terseok-seok memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan impian memiliki rumah, bagi kita, barangkali lebih dekat dengan perasaan berdosa ketimbang cita-cita.

Kawan-kawan, untuk situasi ini, perkataan Cassius dalam lakon Julius Caesar karya Shakespeare sepatutnya dibalik: yang bersalah bukan kita, melainkan bintang-bintang.

Bintang-bintang itu adalah upah yang terus melangkah di belakang harga properti. Menurut data Positive Money, sebuah organisasi nirlaba di London, pada 1996 orang-orang di seluruh dunia hanya mengeluarkan 17,5% gaji mereka untuk membayar cicilan rumah, tetapi 12 tahun kemudian, saat giliran kita tiba, angka itu meningkat jadi 49,3%.

Real Estate Indonesia (REI) mencatat kenaikan harga rumah di kota-kota besar Indonesia sudah mencapai 10 hingga 30%, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi 5% dalam lima tahun terakhir.

Bintang-bintang itu adalah rumah-rumah kosong dengan papan “disewakan” di halamannya, yang dibeli sebagai instrumen investasi alih-alih tempat tinggal. Positive Money mengatakan, kepemilikan rumah kedua adalah sebab kenaikan harga rumah yang lebih kuat ketimbang pertambahan jumlah penduduk suatu kota.

“Semakin banyak orang yang menjadikan properti sebagai instrumen investasi, semakin tak terjangkau harganya bagi mereka yang belum memiliki rumah,” kata Wan Ulfa Nur Zuhra dalam “Properti Kian Tak Terbeli.”

Bintang-bintang itu adalah kesempatan yang menumpuk di kota-kota besar dan akan segera menjadikan Jakarta sebuah megakota dengan penduduk terbanyak di dunia. Padahal, di sisi lain, kota itu sudah kekurangan hunian sejak 1948. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), 48,91% warga tak punya hunian dan ada backlog atau kebutuhan papan untuk 1,3 juta rumah tangga di Jakarta pada 2016.

Sebuah survei Kompas di tujuh kota besar pada 2017, melibatkan 300 responden berumur 25-35 tahun, menyatakan ada 61% milenial Indonesia yang belum memiliki rumah.

Bintang-bintang itu adalah biaya sewa tempat tinggal yang tak kalah mencekik. Di Jakarta, sekali lagi, rata-rata biaya sewa tempat tinggal mencapai 37% gaji seseorang. Itu jauh melampaui batas yang direkomendasikan, yakni 25%, agar ia dapat menikmati gaji dan menyisihkan dana untuk perlindungan diri dan keluarganya.

Kita berada dalam situasi ini tanpa pernah memilihnya. Namun, dengan bertahan dan menyigi lebih jauh, kita akan tahu bahwa tak semua bintang mengantarkan berita buruk, bahwa takdir yang melingkupi kita tak sepenuhnya gelap.

Infografik Kredit rumah Ramah Milenial
Preview


Survei Property Affordability Sentiment Index H1-2018 oleh Rumah.com menunjukkan 63% dari 1.020 responden di seluruh Indonesia mengaku berencana membeli rumah dalam enam bulan ke depan. Dari total responden yang berencana membeli rumah tersebut, 44% berasal dari kelompok usia 21-29 tahun dan 35% dari kelompok usia 30-39 tahun—atau, dengan kata lain, milenial.

Sikap optimistik itu berlandaskan fakta penting bahwa sesungguhnya urusan permukiman telah mulai ditangani dengan keberpihakan, dan kita tak begitu saja dibiarkan terkatung-katung. Kecukupan memang masih jauh, namun yang lebih penting, sesungguhnya ada perhatian besar kepada kita, baik dari pemerintah maupun perbankan.

Program Sejuta Rumah yang ditaja pemerintah mulai menampakkan hasilnya dalam mengatasi ketertinggalan jumlah persediaan rumah terhadap kebutuhan atasnya. Pada 2015 dan 2016, program itu menyediakan 699.770 dan 805.169 unit rumah. Adapun pada 2017, hingga awal Desember, program itu membangun 765.120 unit rumah, di mana 81%-nya ditujukan kepada masyarakat berpenghasilan rendah.

Dari sektor perbankan, Bank BTN bahkan secara khusus menyediakan bantuan pembiayaan pembelian hunian, baik apartemen maupun rumah tapak, kepada kita. Dinamakan “KPR Gaeesss,” program ini ramah terhadap milenial. Untuk menjadi debitur, misalnya, kita tak perlu mengendapkan dana jaminan di rekening. BTN juga memberikan diskon biaya provisi dan administrasi hingga 50%. Biaya-biaya proses KPR itu pun masuk plafon kredit. Artinya, kita bisa semakin berhemat.

BTN menyediakan suku bunga ringan sebesar 8,25 persen (fixed) selama 2 tahun. Keistimewaan lainnya: debitur KPR Gaeesss bisa cuti membayar utang pokok selama 2 tahun. Agar beban angsuran bisa lebih ringan, ada opsi tenor kredit hingga 30 tahun untuk KPR, dan 20 tahun untuk KPA (apartemen). Dan yang paling memudahkan: uang muka minimal 1% bagi debitur KPR rumah pertama.

Sebuah ungkapan Prancis mengatakan, il faut d’abord durer atau “di atas segalanya, orang mesti bertahan.” Agaknya, kita perlu menjadikannya milik kita.

Baca juga artikel terkait MILD REPORT atau tulisan menarik lainnya Advertorial

populerRelated Article