Home
/
Digilife

Perang Belum Usai, Industri Teknologi di Palestina Makin Redup

Perang Belum Usai, Industri Teknologi di Palestina Makin Redup
Vina Insyani26 October 2023
Bagikan :

Uzone.id – Konflik Palestina dan Israel belum menemukan tanda-tanda penyelesaian, bahkan sampai saat ini penyerangan dari pihak Israel terus berlanjut ke wilayah Gaza.

Perang antara dua wilayah ini turut menghancurkan industri teknologi dan startup yang mulai berkembang di Palestina. Walaupun Gaza disebut sebagai wilayah dengan tantangan ekonomi paling parah di dunia, namun nyatanya industri teknologi menjadi harapan baru di negara tersebut.

Sebut saja, sebelum konflik ini memanas, Silicon Valley menaruh perhatian pada Palestina sebagai pusat teknologi dunia dengan investasi mencapai USD10 juta. Di 2017 lalu, CEO Salesforce Marc Benioff bergabung dengan tokoh-tokoh Silicon Valley untuk membuat akademi coding pertama di Gaza.

Akademi ini diberi nama sebagai Gaza Sky Geeks yang bertujuan sebagai perusahaan pusat teknologi/startup di Palestina. Akademi ini menjadi pusat koding pertama yang didirikan di Gaza dan mendapat sokongan dari organisasi kemanusiaan global Mercy Corps dan Google.

Gaza Sky Geeks ini menawarkan investasi awal, pelatihan dan sumber teknologi untuk masyarakat Gaza. Di 2022 lalu, sebanyak  5 ribu coders dan pengembang dari Tepi Barat dan Gaza telah lulus dari program ini.

Saat ini, ada beberapa startup yang berkembang di Palestina, sebut saja Menalytics, Olivery, Coretava, dan Sellenvo.

Bahkan, salah satu Venture Capital lokal bernama Ibtikar juga meningkatkan pendanaan mereka menjadi USD30 juta dalam putaran pendanaan kedua pada startup yang sedang berkembang.

Sayangnya, perkembangan dari industri teknologi ini harus kembali redup karena konflik yang terjadi secara berkelanjutan.

Iliana Montauk, seorang co-founder dari startup Manara mengatakan kalau konflik kali ini berpengaruh sangat berbeda pada industri teknologi.

“Pasokan listrik diputus di seluruh jalur Gaza. sejumlah besar infrastruktur telah dibom (termasuk ISP dan gedung apartemen tinggi yang memiliki menara telepon seluler). Seluruh lingkungan kelas menengah dihancurkan,” ujarnya dikutip dari Techcrunch, Rabu, (25/10).

Ia menambahkan, “Sektor teknologi hampir sepenuhnya tidak bisa berfungsi di Gaza saat ini.”

Startup Manara sendiri memiliki sekitar 100 teknisi software di Gaza dan beberapa diantaranya bekerja secara remote untuk perusahaan Silicon Valley di AS dan Eropa.

Namun, dengan pemutusan listrik ini, kebanyakan dari mereka kehilangan koneksi internet dan hanya memiliki akses ke 2G saja.

Namun, di tengah redupnya laju industri teknologi di Palestina. Mohammad Alnobani, pendiri The Middle Frame yang mengatakan kalau rumah rekan-rekannya hancur akibat serangan udara, beberapa diantaranya bahkan tak bisa dijangkau karena listrik yang terputus.

Meskipun masih terbilang kecil, para pendiri dan investor Palestina mengatakan kalau ekosistem teknologi di negara ini dipandang sebagai bagian penting dari masa depan ekonomi Palestina

Sayangnya, konflik antara Palestina dan Israel membuat perkembangan tersebut meredup dan bahkan hancur.

populerRelated Article